Latar Megah, Beberapa Film Dengan Latar Sungguhan Bukan Hasil Rekayasa Komputer

Beberapa film sekarang sudah menggunakan teknologi komputer, Terlepas dari penggunaan CGI yang makin marak di perfilman Hollywood, beberapa tim produksi film layak mendapat acungan jempol untuk keputusan mereka membangun set luas untuk keperluan syuting.

Latar memang salah satu yang perlu di timbangkan, mengingat sebuah latar di film memang memakan bisa hampir separuh dari budget film itu sendiri. Berikut beberapa latar yang tidak menggunakan teknologi komputer .

The Atoll dalam Waterworld

Sampai kapan pun karir aktor senior Kevin Costner akan selalu dikait-kaitkan dengan mahakaryanya, Waterworld (1995). Bukan karena kesuksesan filmnya meraup keuntungan atau menang di ajang penghargaan memang, tapi lebih kepada tragedi yang menyertai proses pembuatan filmnya.

Untuk mewujudkan visi dari sang sutradara, Dennis Gassner sebagai Production Design membuat sebuah pulau buatan seluas 12,5 kilometer persegi dengan bahan besi, kayu, dan material pendukung lainnya. Khusus untuk besi, tim produksi memesannya dari Hawaii dan juga California. Semua bahan yang diperlukan untuk membuat pulau ini mencapai berat 1000 ton lebih. Mereka menempatkannya di Samudera Pasifik, tepatnya lepas pantai Hawaii.

Replika Kapal Titanic

Membicarakan film Titanic (1997), tidak bisa lepas dari romansa kedua tokohnya Jack (Leonardo diCaprio) dan Rose (Kate Winslet). Namun sejatinya di balik roman yang menghasilkan 11 piala Oscar di tahun 1998 ini ada sebuah proses menarik dalam pembuatan setting pengambilan gambarnya.

Sang sutradara James Cameron dibantu dengan Peter Lamont (Production Design) membangun replika kapal yang dibuat dengan skala 90 persen dari ukuran kapal aslinya. Dengan ukuran panjang 243,8 meter dan lebar 27,4 meter, ternyata replika itu tidak muat di studio mana pun sehingga akhirnya 20th Century Fox dan Paramount membangunnya di pesisir Mexico demi keperluan pengambilan gambar selama 100 hari.

Baca Juga :  Film-Film Terbaik, Yang Harus Kamu Lihat Sebelum Mati

Air yang dipakai selama proses pengambilan gambar diambil langsung dari laut. Semua air dipompa untuk memenuhi dua tangki dengan volume masing-masing cukup untuk 5 dan 17 juta galon air.

Desain kapal Titanic untuk keperluan film ini diambil dari desain kapal Olympic yang tak lain adalah “kembaran” Titanic. Sementara untuk interior dan detail lainnya diambil dari arsip dokumentasi yang ada.

Jalan Tol di The Matrix Reloaded

Di tahun 1999, The Matrix hadir sebagai film fiksi ilmiah revolusioner berkat adegan bullet-time. Empat tahun kemudian duo sutradara Wachowsky bersaudara memutuskan untuk membuat sekuelnya, The Matrix Reloaded (2003). Dampak dari kesuksesan film pertama, duo sutradara itu harus memutar otak untuk membuat adegan yang lebih spektakuler

Melangsungkan pengambilan gambar di jalan umum yang padat kendaraan tentu bukan hal mudah. Perlu izin dari pihak terkait dan juga pengalihan lalu lintas selama proses syuting berlangsung. Coba bayangkan apabila hal tersebut terjadi di jalan tol.

Daripada pusing memikirkan hal di atas, Wachowsky dibantu Owen Patterson membuat sendiri jalan tol buatan sepanjang 2,4 kilometer di dekat Pangkalan Udara Alameda.Wachowsky bersaudara merasa bahwa polesan CGI pun tak akan mampu membuat adegan kejar-kejaran ini terlihat spektakuler.

Proses pengambilan gambarnya pun berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Lebih lama dari proses syuting keseluruhan film mana pun.

Desa Hobbiton

Desa fantasi ini dibangun di Selandia Baru dengan luas 159,3 kilometer persegi dan dilengkapi dengan 37 gua Hobbit (sebutan untuk rumah para Hobbit), sebuah jembatan, dan sebuah bar serta penginapan. Demi mendapatkan kesan riil, sebanyak 26 ton pohon Oak didatangkan ke lokasi, ditanam, dan diberi daun buatan.

Baca Juga :  Rekomendasi Film Perang Modern Terbaik Sampai Saat Ini

Tak sia-sia kepala desain produksi Dan Hennah merancang desa ini sebab selepas filmnya ditayangkan, The Hobbiton menjadi destinasi wisata turis domestik dan mancanegara.

Facebook Comments

Latar Megah, Beberapa Film Dengan Latar Sungguhan Bukan Hasil Rekayasa Komputer

Beberapa film sekarang sudah menggunakan teknologi komputer, Terlepas dari penggunaan CGI yang makin marak di perfilman Hollywood, beberapa tim produksi film layak mendapat acungan jempol untuk keputusan mereka membangun set luas untuk keperluan syuting.

Latar memang salah satu yang perlu di timbangkan, mengingat sebuah latar di film memang memakan bisa hampir separuh dari budget film itu sendiri. Berikut beberapa latar yang tidak menggunakan teknologi komputer .

The Atoll dalam Waterworld

Sampai kapan pun karir aktor senior Kevin Costner akan selalu dikait-kaitkan dengan mahakaryanya, Waterworld (1995). Bukan karena kesuksesan filmnya meraup keuntungan atau menang di ajang penghargaan memang, tapi lebih kepada tragedi yang menyertai proses pembuatan filmnya.

Untuk mewujudkan visi dari sang sutradara, Dennis Gassner sebagai Production Design membuat sebuah pulau buatan seluas 12,5 kilometer persegi dengan bahan besi, kayu, dan material pendukung lainnya. Khusus untuk besi, tim produksi memesannya dari Hawaii dan juga California. Semua bahan yang diperlukan untuk membuat pulau ini mencapai berat 1000 ton lebih. Mereka menempatkannya di Samudera Pasifik, tepatnya lepas pantai Hawaii.

Replika Kapal Titanic

Membicarakan film Titanic (1997), tidak bisa lepas dari romansa kedua tokohnya Jack (Leonardo diCaprio) dan Rose (Kate Winslet). Namun sejatinya di balik roman yang menghasilkan 11 piala Oscar di tahun 1998 ini ada sebuah proses menarik dalam pembuatan setting pengambilan gambarnya.

Sang sutradara James Cameron dibantu dengan Peter Lamont (Production Design) membangun replika kapal yang dibuat dengan skala 90 persen dari ukuran kapal aslinya. Dengan ukuran panjang 243,8 meter dan lebar 27,4 meter, ternyata replika itu tidak muat di studio mana pun sehingga akhirnya 20th Century Fox dan Paramount membangunnya di pesisir Mexico demi keperluan pengambilan gambar selama 100 hari.

Baca Juga :  10 film dengan adegan ranjang yang lebih

Air yang dipakai selama proses pengambilan gambar diambil langsung dari laut. Semua air dipompa untuk memenuhi dua tangki dengan volume masing-masing cukup untuk 5 dan 17 juta galon air.

Desain kapal Titanic untuk keperluan film ini diambil dari desain kapal Olympic yang tak lain adalah “kembaran” Titanic. Sementara untuk interior dan detail lainnya diambil dari arsip dokumentasi yang ada.

Jalan Tol di The Matrix Reloaded

Di tahun 1999, The Matrix hadir sebagai film fiksi ilmiah revolusioner berkat adegan bullet-time. Empat tahun kemudian duo sutradara Wachowsky bersaudara memutuskan untuk membuat sekuelnya, The Matrix Reloaded (2003). Dampak dari kesuksesan film pertama, duo sutradara itu harus memutar otak untuk membuat adegan yang lebih spektakuler

Melangsungkan pengambilan gambar di jalan umum yang padat kendaraan tentu bukan hal mudah. Perlu izin dari pihak terkait dan juga pengalihan lalu lintas selama proses syuting berlangsung. Coba bayangkan apabila hal tersebut terjadi di jalan tol.

Daripada pusing memikirkan hal di atas, Wachowsky dibantu Owen Patterson membuat sendiri jalan tol buatan sepanjang 2,4 kilometer di dekat Pangkalan Udara Alameda.Wachowsky bersaudara merasa bahwa polesan CGI pun tak akan mampu membuat adegan kejar-kejaran ini terlihat spektakuler.

Proses pengambilan gambarnya pun berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Lebih lama dari proses syuting keseluruhan film mana pun.

Desa Hobbiton

Desa fantasi ini dibangun di Selandia Baru dengan luas 159,3 kilometer persegi dan dilengkapi dengan 37 gua Hobbit (sebutan untuk rumah para Hobbit), sebuah jembatan, dan sebuah bar serta penginapan. Demi mendapatkan kesan riil, sebanyak 26 ton pohon Oak didatangkan ke lokasi, ditanam, dan diberi daun buatan.

Baca Juga :  My Neighbor Totoro yang Rilis 1988 ini Akhirnya Masuk Bioskop Indonesia

Tak sia-sia kepala desain produksi Dan Hennah merancang desa ini sebab selepas filmnya ditayangkan, The Hobbiton menjadi destinasi wisata turis domestik dan mancanegara.

Facebook Comments
Scroll to top