Pertanian Modern, Ketika Lahan Semakin Sempit

Pertanian adalah bidang yang sangat krusial. Sayangnya, menjadi petani bukanlah salah satu jawaban yang akan dikatakan oleh anak SD sekarang saat ditanya kalau sudah besar mau jadi apa. Padahal tanpa petani dan pertanian, kita bisa makan apa? Padahal di masa kini, pertanian tidak lagi identik dengan sawah dan ladang yang becek. Lagi-lagi teknologi berhasil menciptakan bentuk baru dari pertanian, yang disebut dengan indoor farm.

Seperti istilahnya, pertanian di tempat tertutup tidak mengharuskan kamu turun ke sawah yang berlumpur. Nggak perlu juga berkutat dengan sinar matahari dan kerbau untuk membajak, seperti yang sering digambarkan secara berlebihan di FTV ber-setting desa. Pertanian yang sering dianggap kuno dan tradisional, kini menjadi sebuah pekerjaan yang begitu modern dan kaya akan sentuhan teknologi. Dengan indoor farm, bertani bahkan bisa dilakukan di gedung-gedung tinggi.

Indoor farming adalah salah satu jenis pertanian vertikal. Masih ingat materi tanam hidroponik saat SD? Indoor farming adalah salah satu medianya

Daftar Isi

Baca Juga :  Rekor Baru, Astronaut Terlama Tinggal di Antariksa

Daerah perkotaan sangat minim lahan, untuk bercocok tanam di lahan luas sangat sulit dilakukan di era modern seperti ini. Jadi kita bisa bercocok tanam di banyak tempat mulai apartmen, truk kontainer, diatap rumah.

Beberapa metode indoor farming mulai dari hidroponik (di atas air), aquaponic (di atas kolam ikan), ataupun aeroponic (di udara)

Sementara tekniknya mengandalkan teknik controlled-environment agricultural (CEA). Mulai dari suhu, kelembaman, hingga cahaya harus dikontrol dengan ketatnya

Dengan indoor farm, tak ada istilah gagal panen karena cuaca. Hujan terus-terusan tak masalah, dan climate change yang menyebabkan iklim tak karuan juga bukan ancaman

Di negara-negara besar seperti Amerika, Jepang, dan Singapura, indoor farm sudah menjadi alternatif pertama. Produk yang dihasilkan pun tak kalah hebat dari pertanian biasa

Di Singapura, indoor farm menghasilkan 54 ton sayuran setiap tahunnya. Sementara di Indonesia, meski sudah banyak indoor farm, tapi belum ada yang menjadi industri besar

Petani yang selalu dianggap mengandalkan intuisi dan membacai pertanda alam, kini kental sentuhan teknologi. Di Amerika, ada software khusus untuk menjalankan indoor farming

Beberapa pakar berpendapat, hasil dari indoor farming ini lebih baik dari pertanian organik. Terutama aquaponic, yang tidak bisa memakai bahan kimia tambahan kalau tak mau ikan di bawahnya mati

Meski tidak perlu punya sawah ataupun pengairan, biaya untuk indoor farm ini sangatlah besar. Seperti indoor farming di Oakland, perbulannya listrik memakan biaya US$4000

Kombinasi antara climate change, semakin sempitnya lahan, dan malasnya generasi muda terjun ke dunia pertanian yang dianggap kurang bergengsi, jadi ancaman serius untuk populasi manusia. Kalau semua maunya jadi pengusaha dan pengacara, lalu kita mau makan apa? Kalau semuanya dibangun apartemen dan gedung-gedung industri, lalu kita menanam padi di mana? Padahal semakin lama penduduk bumi yang butuh makan semakin banyak.

Baca Juga :  Merinding! Teknologi Ini Mampu Menghidupkan Kembali Orang yang Sudah Mati

Indoor farming bisa menjadi salah satu solusi yang tepat, meskipun beberapa hal masih harus dipikirkan. Selain itu, dengan lahan ‘dinas’ yang keren seperti gambar-gambar di atas, stigma petani yang harus panas-panasan di sawah dan belepotan lumpur bisa hilang. Petani tak ubahnya profesi lain yang dilakukan di dalam gedung tinggi dengan segala aroma teknologi. Mungkin dengan begitu, petani perlahan-lahan bisa menjadi profesi yang bergengsi dan dilirik oleh anak muda masa kini.

Pertanian Modern, Ketika Lahan Semakin Sempit

Pertanian adalah bidang yang sangat krusial. Sayangnya, menjadi petani bukanlah salah satu jawaban yang akan dikatakan oleh anak SD sekarang saat ditanya kalau sudah besar mau jadi apa. Padahal tanpa petani dan pertanian, kita bisa makan apa? Padahal di masa kini, pertanian tidak lagi identik dengan sawah dan ladang yang becek. Lagi-lagi teknologi berhasil menciptakan bentuk baru dari pertanian, yang disebut dengan indoor farm.

Seperti istilahnya, pertanian di tempat tertutup tidak mengharuskan kamu turun ke sawah yang berlumpur. Nggak perlu juga berkutat dengan sinar matahari dan kerbau untuk membajak, seperti yang sering digambarkan secara berlebihan di FTV ber-setting desa. Pertanian yang sering dianggap kuno dan tradisional, kini menjadi sebuah pekerjaan yang begitu modern dan kaya akan sentuhan teknologi. Dengan indoor farm, bertani bahkan bisa dilakukan di gedung-gedung tinggi.

Indoor farming adalah salah satu jenis pertanian vertikal. Masih ingat materi tanam hidroponik saat SD? Indoor farming adalah salah satu medianya

Daftar Isi

Baca Juga :  Ternyata Fungsi Drone Tidak Hanya Sekedar Untuk Foto Saja

Daerah perkotaan sangat minim lahan, untuk bercocok tanam di lahan luas sangat sulit dilakukan di era modern seperti ini. Jadi kita bisa bercocok tanam di banyak tempat mulai apartmen, truk kontainer, diatap rumah.

Beberapa metode indoor farming mulai dari hidroponik (di atas air), aquaponic (di atas kolam ikan), ataupun aeroponic (di udara)

Sementara tekniknya mengandalkan teknik controlled-environment agricultural (CEA). Mulai dari suhu, kelembaman, hingga cahaya harus dikontrol dengan ketatnya

Dengan indoor farm, tak ada istilah gagal panen karena cuaca. Hujan terus-terusan tak masalah, dan climate change yang menyebabkan iklim tak karuan juga bukan ancaman

Di negara-negara besar seperti Amerika, Jepang, dan Singapura, indoor farm sudah menjadi alternatif pertama. Produk yang dihasilkan pun tak kalah hebat dari pertanian biasa

Di Singapura, indoor farm menghasilkan 54 ton sayuran setiap tahunnya. Sementara di Indonesia, meski sudah banyak indoor farm, tapi belum ada yang menjadi industri besar

Petani yang selalu dianggap mengandalkan intuisi dan membacai pertanda alam, kini kental sentuhan teknologi. Di Amerika, ada software khusus untuk menjalankan indoor farming

Beberapa pakar berpendapat, hasil dari indoor farming ini lebih baik dari pertanian organik. Terutama aquaponic, yang tidak bisa memakai bahan kimia tambahan kalau tak mau ikan di bawahnya mati

Meski tidak perlu punya sawah ataupun pengairan, biaya untuk indoor farm ini sangatlah besar. Seperti indoor farming di Oakland, perbulannya listrik memakan biaya US$4000

Kombinasi antara climate change, semakin sempitnya lahan, dan malasnya generasi muda terjun ke dunia pertanian yang dianggap kurang bergengsi, jadi ancaman serius untuk populasi manusia. Kalau semua maunya jadi pengusaha dan pengacara, lalu kita mau makan apa? Kalau semuanya dibangun apartemen dan gedung-gedung industri, lalu kita menanam padi di mana? Padahal semakin lama penduduk bumi yang butuh makan semakin banyak.

Baca Juga :  Wow, Console Terbaru dari Nintendo

Indoor farming bisa menjadi salah satu solusi yang tepat, meskipun beberapa hal masih harus dipikirkan. Selain itu, dengan lahan ‘dinas’ yang keren seperti gambar-gambar di atas, stigma petani yang harus panas-panasan di sawah dan belepotan lumpur bisa hilang. Petani tak ubahnya profesi lain yang dilakukan di dalam gedung tinggi dengan segala aroma teknologi. Mungkin dengan begitu, petani perlahan-lahan bisa menjadi profesi yang bergengsi dan dilirik oleh anak muda masa kini.

Scroll to top